Rabu, 25 November 2015

Perencanaan Pembelajaran

Segala sesuatu harus direncanakan. Termasuk dalam hal pengajaran. Seorang guru yang akan melakukan kegiatan belajar mengajar diharuskan mengantongi sederet perencaan pengajaran yang akan dilakukan di dalam kelas. Perencanaan pengajaran tersebut harus tersusun dengan rapi dan jelas,sesuai dengan kurikulum yang digunakan berikut tujuannya.
Sebelum menyusun perencaan pembelajaran tersebut, ada beberapa hal yang yang harus dikatahui leh seorang guru, diantaranya adalah materi pelajaran,jenjang, kisi-kisi materi, keterampilan yang diajarkan, format perencanaan pangajaran,dan lain sebagainya. Hal paling utama yang harus dipelajari oleh seorang guru sebelum menyusun perencanaan pembelajaran adalan kurikulum. Rangkaian perencaan pembelajaran tersebut di negara kita lazim disebut dengan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajan).
Mengingat negara kita ini adalah negara yang sarat akan hukum, segala hal yang disangkut dalam penyusunan RPP harus berdasarkan undang-undang dan peraturan menteri yang berlaku. Terkadang prosedur dan undang-undang itulah yang terasa ribet dan mbulet menurut kita (mahasiswa).
Tapi sahabat, ingatlah bahwa segala sesuatu itu harus direncanakan, apalagi soal mengajar dan mendidik , semua harus terencana dan terstruktur dengan baik, agar hasilnya cantik dan jalannya tidak ngawur.
Pada dasarnya, prosesur dan undang-undang itu ada untuk memudahkan jalan kita menyusun RPP, supaya rencana yang kita buat tersusun dengan rapi. Teruntuk mahasiswa semester 5 yang baru kenalan dengan penyusunan RPP pasti terasa riber dan agak menguras otak,tapi inilah yang harus kita pelajari sekarang,karena bagi kita calon guru bahasa Arab nanti dia akan jadi makanan kita sehari-sahari. Setidaknya mulai sekarang kita belajar terbiasa dengan hal-hal yang biasa (RPP). Teringat perkataan seorang yang mengatakan, " jadilah mahasiswa yang mencari makna bukan kata," ...
bahwa kita para calon guru, hendaknya belajar memahami makna dari segala sesuatu ...

Jumat, 17 April 2015




KADER hidup yang bergelar ANAK 

Seorang anak sejatinya adalah anugerah terindah yang dititipkan Sang Pencipta kepada para hamba-Nya yang dirasa pantas untuk menyandang gelar Orang Tua sekaligus Pendidik untuk anugerah yang bergelar Anak. Anugerah itu sudah barang tentu menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri bagi penyandangnya, namun yang sering dilupakan oleh para penyandang gelar Orang Tua itu adalah, bahwa mereka tidak hanya diberikan nikmat itu secara gratis akan tetapi dibalik itu semua mereka diberi tanggung jawab besar untuk mendidik anaknya untuk dunianya dan juga akhiratnya kelak.
Banyak orang yang menyadari akan hal itu, dan tidak sedikit juga yang tahu akan tetapi lalai akan hal itu. Orang tua tidak hanya bertanggung jawab atas keadaan dhohir anak saja, melainkan juga bathin, akal, serta emosional anak. Dalam kenyataan yang lumrah terjadi memang ada pernyataan bahwa orang tua bertanggung jawab pada anaknya sampai ia dewasa dan bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Namun yang sering terlupakan, sebelum datangnya masa itu bukankah orang tua yang bertanggung jawab penuh atas segala yang ada dan yang terjadi pada anaknya ?
Membesarkan anak bukanlah suatu proyek investasi seperti yang sebagian orang katakan. Sungguh suatu kesalan besar jika mendidik dan membesarkan anak itu dijadikan tujuan pokok untuk investasi yang diharapkan membawa keuntungan dihari yang akan datang. Mendidik dan membesarkannya hingga dewasa bahkan sampai ia tak dapat melihat orang tuanya lagi merupakan KEWAJIBAN pokok para orang tua yang diberikan amanah untuk menanggungnya. Jikalau anak hanya dianggap sebagai objek investasi, lalu apa bedanya anak dengan harta yang tak abadi yang diagungkan para Hedonis. Anak lebih dari sekedar harta yang berharga bagi orang tuanya, orang tua mendidik dan menyekolahkan anak sampai setinggi langit hingga anak itu sukses, bukan untuk diambil keuntungannya berupa apapun, akan tetapi untuk menunjukkan anak kepada kehidupan yang lebih layak dan nyata baginya serta membahagiakan untuknya.
Seperta kata pepatah " Jika kita menanam bibit yang baik, maka kita akan menuai buah yang baik pula ". Begitu pula dengan membesarkan dan mendidikan anak, jika kita selalu mengajarkan dan menanamkan hal baik pada diri mereka maka kebaikan itu akan terpupuk dan tumbuh subur dalam dirinya bahkan sampai ia dewasa. Maka kebaikan itulah yang akan berbuah dalam diri anak itu kelak, dan orang tua akan mendapatkannya tanpa memintanya, sungguh itulah buah dari bibit yang telah ditanam selama  bertahun-tahun orang tua membesarkan serta mendidik anaknya.
Sungguh anak adalah kader terbaik dan terindah dari Allah yang dianugerahkan kepada umatnya. Jika kader itu dididik dan dibesarkan dalam kebaikan maka buahnya akan baik, sebaliknya jika kader itu digemlbleng dengan keburukan maka buahnya akan buruk pula.
Kalaupun yang telah ditanam dengan kebaikan itu tak berbuah serupa, berarti masih ada kelalaian yang kurang diperhatikan yang membuat sang anak tumbuh tak seperti harapan dari didikan orang tuanya. Sebaliknya, jika yang digembleng dengan keburukan itu berbuah baik, berarti mungkin telah terjadi bom waktu yang dialami oleh sang anak yang menyadarkannya akan kebaikan yang sudah seharusnya ia dapatkan.